Sabtu, 21 April 2012

Aku dan Bayangan


Aku berdiri di suatu tempat, entah dimana aku pun tak tahu tapi sepertinya tempat ini tak asing bagiku. Aku terus melangkah mencari pembenaran. Aku penasaran, bahkan amat sangat. Aku menapaki lantai rumah yang terasa dingin di telapak kaki ini dan kemudian aku tersadar bahwa aku sedang berada dalam rumahku sendiri, tapi kenapa semuanya begitu sunyi. Rumahku menjadi sunyi dan berkabut, menyeramkan. Aku mendapati pintu kamarku terbuka, ada seseorang di dalam sana. Aku berpikir sejenak, siapa yang berani masuk ke dalam kamarku tanpa seizinku? Aku paling tidak suka dengan orang yang mengganggu privasiku termasuk Mbok Isah, termasuk pula papa. Aku paling tidak suka ada orang yang berani menyentuh barang-barangku.
Aku terus mendekati pintu kamar. Seketika aroma busuk tercium dari dalam kamarku. Aku semakin garam, apa yang sedang dilakukan seseorang di dalam sana. Aku semakin mendekat dan bau itu semakin menyengat. Aku semakin marah. Aku mempercepat langkahku, tapi aku tak menemukan siapa-siapa di dalam kamarku dan bau busuk itu masih tercium bahkan semakin menjadi-jadi. Aku mencari dimana sumber bau itu, mungkinkah sebuah telur busuk, atau kotoran kucing tapi bau ini terasa aneh. Seperti bau anyir borok yang menjijikan. Baunya seperti nanah yang membusuk. Aku semakin kesal pada diriku sendiri. Dimana sumber bau itu? Bagaimana bisa bau itu begitu terasa menyengat? Padahal jelas-jelas Mbok Isah selalu membersihkan kamar tidurku setiap hari. Dengan berjalannya waktu, bau itu semakin menyengat, aku menutup hidungku rapat-rapat. Ingin sekali aku keluar dari kamarku, namun aku tak bisa. Aku sungguh ingin tau bau apa sebenarnya ini? Aku terus melangkah mencari. Aku mendongakan kepalaku ke kolong tempat tidur, tapi nihil.
Hal yang hampir membuat jantungku keluar dari tempatnya, aku melihat sebuah bayangan dalam cermin besar meja hiasku. Sosok itu begitu menjijikan, seluruh tubuhnya penuh dengan borok. Bajunya hampir basah oleh nanah-nanah yang menetes dari borok-borok itu. Sangat mengerikan. Namun aku sosok itu hanya ada dalam bayangan cermin. Aku bertanya dalam hati siapa dia? Namun ada hal yang membuatku terperenjat. Sekilas aku lebih perhatikan sosok itu lebih teliti, aku kaget luar biasa. Aku menelungkupkan tanganku dan menutup mulutku sendiri. Sosok itu adalah diriku sendiri. Tidak! Ini semua pasti salah. Aku tidak mungkin bersosok seperti itu? Tidak! Aku yakin aku salah lihat. Sosok itu bukanlah bayanganku. Aku menatap sosok itu lebih teliti lagi, sialnya sosok itu memang sangat mirip denganku. Itu seperti bayanganku sendiri.
Aku meraba seluruh bagian tubuhku, baik-baik saja. Kulit tubuhku masih sangat halus namun dalam bayangan itu aku begitu menjijikan.
“Siapa kamu?” tanyaku dengan terbata-bata. Ini seperti dalam mimpi. Aku mencubit pipi dan lenganku, sakit. Aku meyakinkan bahwa ini adalah mimpi, namun percuma ini nyata. “Hey, kamu siapa? Apa yang sedang kau lakukan di kamarku?” tanyaku sekali lagi. Bayangan itu tersenyum kepadaku. Aku tidak mengerti, apa yang sedang terjadi padaku saat ini? Apakah aku sedang bermimpi, berhalusinasi atau apa? Aku semakin limbung.
“Aku adalah kamu” ucapnya. Suaranya mirip dengan suaraku. Dia benar-benar seperti diriku.
“Aku tidak punya sosok seperti mu. Menjijikan” aku bergidik melihat bayangan yang mirip denganku itu. Baunya masih menyengat.  
“Aku adalah kamu dan dosa-dosamu” bayangan itu berucap dengan sangat tenang dan aku sangat terganggu dengan kehadirannya.
“Apa maksudmu? Tunggu sebentar, apa kau bilang barusan? Dosa? Apa itu dosa?” aku bertanya seolah aku adalah orang paling bodoh di dunia. Siapapun pasti tau dosa itu apa meskipun dosa tak berbentuk. Dosa itu abstrak.
“Raina, kau bukan orang bodoh. Apa perlu aku tunjukkan padamu semua dosa yang telah kau perbuat selama ini? Baiklah aku akan menunjukkannya padamu” sungguh ajaib, sosok itu menyihir cermin riasku menjadi seperti televisi dengan layar lebar. Ia mempertunjukkan semua perbuatan-perbuatanku beberapa tahun belakangan ini.
“Kau mewarnai seluruh harimu dengan perbuatan dosa. Kau takkan merasakan imbas dari dosa itu. Karena dosa adalah konsep abtrak, tapi ia ada. Lihatlah aku yang sangat menjijikan ini. Sesungguhnya aku adalah dirimu. Aku adalah dirimu Raina. Aku menjijikan karena semua perbuatan dosa-dosamu. Aku adalah kamu, Raina”
“Sebenarnya kamu siapa? Aku tidak kenal kamu dan lebih baik kamu tidak usah ikut campur dengan urusanku. Sekarang pergi kamu dari sini, pergi.....!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya.
“Raina, pertanyaanmu itu tak guna. Aku yakin kau tau semua jawaban atas pertanyaanmu. Kau bilang aku tidak usah ikut campur dalam urusanmu? Kau salah Raina, tentu saja aku ikut campur karena aku adalah dirimu. Raina apa yang terjadi dengan dirimu? Kau berubah semenjak ayahmu meninggal dunia dalam kecelakaan hebat itu. Kau putus asa? Aku tau kamu adalah anak yang baik. Oke kalau begitu aku akan menunjukkan kalau kau adalah anak yang baik” sosok itu semakin aneh dan menjadi-jadi. Aku tak mengerti apa maunya. Ia kembali menyulap cermin riasku dan menunjukkan ambar-gambar kecilku waktu dahulu. Kenapa ia begitu tau.
“Raina kecil, menggelayut dalam gendongan ayah. Sholat bersama ayah. Mengaji. Raina kecil menenteng buku iqra’ yang dibelikan ayah. Membaca dengan sepenuh hati dengan tuntunan ayah. Kemudian tertawa sejenak dan memeluk ayah dengan penuh cinta. Raina kecil memakai mukena, ayah yang merapikan mukena Raina yang miring kemana-mana. Raina kecil yang tak beribu menjadikan ayah berperan ganda sebagai ayah dan ibu. Ketika Raina mulai tumbuh dewasa. Raina gelisah mengkhawatirkan ayah karena ayah belum pulang dari kantor. Raina mengambil mushaf dan melafalkan bacaan-bacaan Al-Qur’an. Ditengah malam Raina terbangun untuk shalat tahajud. Raina berdoa untuk dirinya dan untuk ayah. Raina memohon kebahagiaan dunia dan akhirat. Raina semakin tumbuh dewasa. Raina berpuasa dan berbuka puasa dengan ayah tercinta. Seperti itulah Raina. Hingga pada suatu malam, Raina harus kehilangan ayah. Raina limbung dan terjatuh. Raina terpuruk. Raina menenggelamkan kehidupan bersama teman-teman baru Raina. Dengan perasaan putus asa, Raina melemparkan rasa sedihnya, berpesta dengan setan-setan yang dulu dikutuknya. Namun kini setan-setan itu menjadi sahabat baru Raina. Pegangan Raina bukan Al-Qur’an lagi, tapi alkohol. Raina yang dulu sering menyendiri dan membaca mushaf kini beramai-ramai dan berdisko. Raino merokok. Raina mulai senang bermain-main dengan jarum suntik. Ya semua itu Raina lakukan untuk menguapkan kesepianmu kan?. Raina, kau jatuhkan dirimu sendiri ke dalam kehidupan kelam dan aku adalah dirimu saat ini”
“Kenapa kau begitu menyebalkan. Pergi kau dari dalam kamarku, pergii....!!!” aku marah tak terperikan. Lagipula kenapa bayangan itu berani sekali mencampuri hidupku. Aku hanya marah pada kehidupan yang mulai tak adil ini. Aku marah karena Tuhan telah mengambil ibu dan ayahku. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku sebatang kara.
“Apakah kau mau tau apa yang sedang terjadi dengan ayahmu saat ini Raina?”
“Ayah? Apa yang sedang terjadi dengan ayah?” tanyaku ingin tahu.
“Lihatlah ia” sosok itu kembali menyihir cermin hiasku menjadi LCD ukuran besar. Aku ternganga melihat ayah disiksa oleh kedua makhluk berjubah hitam. Ayah merintih kesakitan, ayah mengeram dan berteriak, ayah begitu menderita. Tapi kenapa tak ada yang menghiraukan ayah. Aku menangis tersedu, kondisi ayah begitu menyedihkan. Aku teriak histeris.
“Hentikan, hentikaaaan....!” aku tak mampu lagi manahan amarahku. Keterlaluan. Kenapa mereka menyiksa ayah di sana. Bukankah ayah orang baik. Ayah yang selalu mengajariku mengaji waktu kecil.
“Ayahmu di siksa itu karena dosa-dosamu Raina. Kau masih sangat belia, dosamu masih ditanggung oleh ayahmu”
“Hentikan, hentikan! Jangan siksa ayahku lagi...” aku terjatuh di lantai. Kini aku menyesal dengan semua yang telah aku lakukan. “Maafkan aku, ampuni aku Ya Allah” rasa penyesalan yang begitu hebat, merayap dalam tubuhku. Aku menyadari betapa menjijikannya aku saat ini. Bau busuk itu masih tercium. Aku menatap bayangan itu, jelmaanku sendiri. Ia tampak begitu menjijikan. Itukah gambaran diriku saat ini.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Kau harus segera bertobat. Basuhlah dirimu dengan tobat nasuha. Lihatlah dirimu, kau sudah tak berbentuk lagi. Kau bahkan tak sudi melihat wujudmu yang begitu hina dan menjijikan ini. Lihatlah Raina, lihatlah!”
Aku tak berani menatap cermin itu lagi, aku benar-benar sangat menjijikan. Aku menangis menyesali seluruh dosa-dosaku. Aku menangis hingga dadaku terasa begitu sakit.
“Non Raina, bangun non” suara Mbok Isah terdengar sangat jelas seraya menepuk-nepuk pipiku. Aku membuka mataku perlahan dan kusadari kepalaku terasa begitu berat. “Alhamdulillah, Non sadar juga. Tadi pagi Non pingsan di depan pintu rumah”
Aku mulai ingat apa yang sedang terjadi, tadi malam aku baru saja mabuk dengan teman-teman genk baruku. Aku bangkit dari tepat tidur dan memeluk Mbok Isah sambil terisak. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Hanya Mbok Isah yang tersisa dalam hidupku. Mulai saat ini aku akan bertobat dan memperbaiki hidupku. Mimpi itu benar-benar nyata bagiku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar